Minggu, 06 Juni 2010

Ida Bhatara Ngurah Agung Sakti (Dewa Dalem Madura Sakti) turun ke Gobleg

"Om Awighnam Astu Nama Siwaya"

Di bagian lain diceritakan, Putri ke tiga dari Ida Bhatara Dalem Tamblingan yang bernama Dewa Ayu Mas Dalem Tamblingan merabian (menikah) ring Ngurah Mucaling Ring Nusa (Ida Dalem Ped) dan melinggih di Nusa Penida (Pura Dalem Ped) diiringi parekan yang bernama Pasek Ulika yang kemudian berganti nama menjadi Pasek Kulisah. Ida Dalem Ped dan Dewa Ayu Mas Dalem Tamblingan mempunyai 2 Putra yang bernama:
1. Dewa Dalem Maspahit (melinggih ring Majapahit/Nusa Penida)
2. Dewa Dalem Madura Sakti (melinggih ring Gunung Sari-Sukasada)
Beliau juga memiliki 3 sebutan lain lagi, yakni: Ida Bhatara Ngurah Panji Sakti, Ida Bhatara Ngurah Agung Panji, atau Ida Bhatara Ngurah Agung Sakti.
Arti dari kedua nama tersebut di atas adalah sebagai berikut:
• Maspahit berarti Paling Pahit, sedangkan Madura Sakti berarti Paling Manis, kalau arti dari kedua nama Putra Beliau ini digabungkan, akan melahirkan konsep Rwa Bhineda, yakni: Manis-Pahit menjadi Suka-Duka (seneng-sebet/jele-melah) kemudian menjadi Hitam-Putih dan akhirnya menjadi Poleng, hal inilah yang menyebabkan mengapa warna wastra (kain penghias) pelinggih-pelinggih di Pura Dalem umumnya berwarna hitam-putih (poleng).

Ida Bhatara Dalem Ped merupakan Pepatih dari Ida Bhatara Kondra Prajaya Crangcang Kawat (Ida Bhatara Ganesa) yang melinggih di Pura Tajun (di Pancasari, tepi Danau Tamblingan) dan Pura Bukit Sinunggal (Desa Tajun) serta dipuja/disembah di Pura Jagadnata seluruh Bali. Beliau adalah Putra dari Ida Bhatara Aji Sakti (Dewa Dalem Majapahit/Ida Bhatara Siwa Guru) yang merupakan Penguasa Alam berserta isinya yang melinggih di Pura Bukit Sinunggal dan juga melinggih di Gunung Agung. Ida Bhatara Ganesa mempunyai 2 Istri yakni:
1. Dewa Ayu Guna Anyar (melinggih ring Pura Gunung Anyar), mempunyai 1 Putri yang bernama Dewa Ayu Deling
2. Dewa Ayu Sari (melinggih ring Pura Gunung Sari), mempunyai 1 Putri yang bernama Dewa Ayu Mas Sari

Kemudian, diceritakan Dewa Dalem Maspahit mengambil Dewa Ayu Deling sebagai istri yang diajak melinggih di Nusa Penida dan menurunkan Putra bernama Gusti Ngurah Melayu yang nantinya ikut melinggih di Panji-Sukasada. Dewa Dalem Madura Sakti mengambil Dewa Ayu Mas Sari sebagai istri, yang diajak melinggih ring Gunung Sari, kemudian beliau dianugrahkan 2 parekan yang bernama I Dorakala dan I Jogormanik, dan juga mendapatkan anugrah dari Ibunya (Dewa Ayu Sari) yakni seekor Naga pada sebilah Keris, kemudian Naga tersebut ditunggangi bersama istrinya menuju Hutan Wani di Gobleg. Setelah sampai di Hutan Wani, beliau bertemu dengan seseorang yang sedang menunggu Bunga Tunjungsari, kemudian ditanyalah orang tersebut, siapakah dia dan darimana asalnya, orang tersebut berkata bahwa dia datang dari Watik kemudian menuju Blambangan kemudian datang kepada Dukuh Katrangan dan diperintahkan oleh Dukuh Katrangan untuk menunggu bunga tunjung tersebut dan jika ada yang menghapirinya, beliaulah yang merupakan Gustinya dan disanalah harus menjadi parekan. Diangkatlah orang tersebut menjadi parekan Dewa Dalem Madura Sakti yang diberi nama Jelantik, dengan sebutan Gusti, yang merupakan Papatih Blambangan.

Kemudian diceritakan, Dewa Dalem Madura Sakti mempunyai 2 Putra sebagai berikut:
1. Gusti Ngurah Mucaling, beliau baru lahir sudah bisa menyebut bapak dan ibunya serta memiliki 2 buah caling (gigi taring) di gigi bagian atas
2. Gusti Ngurah Panji Sakti, beliau baru lahir juga sudah bisa menyebut bapak dan ibunya serta berselimut sutra kuning, menggunakan Gegelung Mas Taji dan anting-anting.

Sebelumnya Dewa Dalem Madura Sakti juga mempunyai Putra-Putri Kembar (Kembar Buncing) yang ditadah oleh I Dorakala dan I Jogormanik, karena Beliau tidak boleh mempunyai Putra-Putri Kembar tersebut. Atas Dasar inilah penulis menyimpulkan bahwa adanya Sima Anak Kembar Buncing (Sima Panak Salah) berawal dari sini, jadi sedikit penulis ulas di sini, jika ada yang mempunyai Anak Kembar Buncing (Kembar Laki-Perempuan) dalam suatu Desa harus ditempatkan dekat Pura Dalem agar dapat terlihat dari dekat oleh Parekan Ida Bhatara Dalem yakni Sanghyang Dorakala dan Sanghyang Jogormanik sehingga tidak ada yang berani mengganggu bayi tersebut karena merupakan tetadahan Sanghyang Dorakala dan Sanghyang Jogormanik, tempat ini biasanya disebut Tlugtug (pangseg banyu), kemudian setelah 42 hari baru boleh diupacarai oleh kedua orang tuanya dibantu oleh Krama Desa setempat dan dilukat (dimandikan di Suan Alit/Telabah tempat Melis dan Mekiis) setelah itu barulah bayi kembar tersebut diperbolehkan tinggal di Desa agar berada dalam keadaan selamat.

Selanjutnya, Gusti Ngurah Panji Sakti melinggih di Alas Panji (Desa Panji), dianugrahkan Gusti Jelantik (Papatih Blambangan) sebagai parekan sayang oleh Aji-nya, kemudian datanglah Putra dari Dewa Dalem Maspahit dari Majapahit/Nusa Penida yakni Gusti Ngurah Melayu bersama 16 parekan yang berasal dari Watulepang, ikut bergabung dengan Gusti Ngurah Panji Sakti, yang kemudian parekannya itu diberikan kepada Gusti Ngurah Panji Sakti sebagai Tabeng Dada (Penjaga Keamanan Pribadi). Setelah kedua putra dari Dewa Dalem Madura Sakti dewasa, ada keinginan putranya tersebut berperang untuk menguji kesaktiannya, dan diperintahlah Gowak Putih oleh Dewa Dalem Madura Sakti untuk mencarikan lawan tanding buat kedua putranya tersebut, berangkatlah Gowak Putih tersebut menuju Blambangan dan menyampaikan pesan kepada Ngurah Dalem Blambangan agar siap berperang besok melawan Dewa Dalem Madura Sakti bersama putra-putranya. Kemudian berangkatlah Beliau bersama putra-putranya yang diiringi belasan parekan Watulepang menuju Blambangan untuk berperang melawan Ngurah Dalem Blambangan, singkat cerita, akhirnya Ngurah Dalem Blambangan menyerah kalah dan menyerahkan semua kesaktiannya kepada Gusti Ngurah Panji Sakti. Dengan demikian, diakuilah kesaktian dari Putranya tersebut dan diperintahkanlah Gusti Ngurah Panji Sakti oleh Aji-nya untuk membuat Puri di Sukasada yang menguasai wilayah Panji-Sukasada bersama-sama dengan saudara-saudaranya yakni Gusti Ngurah Melayu sebagai Ratuning Kala Gering dan Gusti Ngurah Mucaling sebagai Ratuning Kala, dan diingatkan pula kepada Beliau untuk tidak menggunakan Budha-Kara, sebab nanti akan menjadi panjak bumi.

Kemudian diceritakan Gusti Ngurah Panji Sakti dicarikan 2 istri oleh Aji-nya yang bernama Lengkesari yang dilinggihkan ring Tengen menguasai wilayah Sukasada dan Ayu Segara (Putrinya Agung Lungka) yang dilinggihkan ring Kiwa menguasai wilayah Panji. Yang melinggih ring Sukasada menurunkan Putra yang bernama Kerta Wijaya. Selanjutnya Gusti Ngurah Panji Sakti kembali ke Puri dan membuat keris yang akan diberikan kepada parekannya, ternyata jumlah keris tersebut lebih lagi 2 buah yang kemudian akan diberikan kepada Putranya, keris tersebut bernama Luk Maya, kemudian terdengar suara jangkrik yang sangat keras yang memekakan telinga sehingga lubang jangkrik tersebut ditutup dengan salah satu dari keris tersebut dan dari lubang jangkrik tersebut keluarlah Air Suci yang kemudian diambil oleh Putra Ngurah Dalem Panji Sakti. Setelah itu, diperintahkanlah Putranya untuk melinggih di suatu daerah dimana ada Wantilan yang menggunakan atap Duk, daerah tersebut bernama Gianyar, di sanalah Putranya melinggih dengan nama Dewa Agung Jepang dan diberikan parekan Truna Tekor sebanyak 20 parekan. Kemudian ada keinginan Dewa Agung Jepang untuk berperang melawan Agung Taheban, akhirnya dikalahkanlah Agung Taheban dan lari ke Cakranegara, disanalah beliau menyerahkan semua kesaktiannya kepada Gusti Ngurah Panji Sakti.
Setelah Gusti Ngurah Panji Sakti melinggih di Puri Sukasada dan menguasai daerah Panji bersama saudara-saudaranya yakni Gusti Ngurah Melayu dan Gusti Ngurah Mucaling, dengan Papatihnya yang bernama Gusti Jelantik dan belasan parekan dari Watulepang, ada keinginan Aji-nya untuk pulang ke Alam Sunia dan dimohon kepada Putranya untuk tidak menghalangi (iklas) pada waktu kepulangannya nanti. Kemudian dinyalakanlah Api yang besar dan terjunlah Aji-nya ke dalam api tersebut, namun beliau kemudian diambil oleh Putranya, oleh karena itu dikutuklah Gusti Ngurah Panji Sakti oleh Aji-nya supaya semua keturunannya nanti pada waktu meninggalnya akan terlihat mayatnya (biasanya kalau mencapai Moksa, mayatnya tidak ada).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar